Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Berita Utama

Gaji Bertambah, Mengapa Uang Terasa Makin Sedikit?

Penulis: ¹Irfan Maulana Yusuf, ²Inez Yuliana
Editor: Redaksi✓
Waktu Publikasi: 20 Oct 2026, 21:00:04 WIB
Foto ilustrasi Gambar  (Sumber: Artificial Intelligence)
Foto ilustrasi Gambar (Sumber: Artificial Intelligence)

Di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan, banyak masyarakat menghadapi pertanyaan sederhana: mengapa uang yang diterima setiap bulan terasa semakin cepat habis? Gaji yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menabung, dan mempersiapkan masa depan sering kali justru habis untuk membayar kebutuhan sehari-hari.

Fenomena ini menarik untuk diperhatikan karena kenaikan pendapatan tidak selalu membuat seseorang merasa lebih sejahtera. Bagi sebagian pekerja, kenaikan gaji mungkin menjadi kabar baik. Namun, ketika harga makanan, biaya transportasi, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan lainnya turut meningkat, tambahan pendapatan tersebut belum tentu memberikan perubahan yang berarti dalam kehidupan mereka.

Persoalannya bukan hanya seberapa besar pendapatan yang diterima, tetapi juga seberapa besar kemampuan pendapatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pertumbuhan Ekonomi dan Realitas Masyarakat

Pertumbuhan ekonomi sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk melihat perkembangan perekonomian suatu negara. Ketika aktivitas produksi, konsumsi, dan investasi meningkat, perekonomian diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun, pertumbuhan ekonomi secara nasional tidak otomatis berarti seluruh masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan dalam tingkat yang sama.

Kondisi tersebut dapat dipahami melalui perbedaan antara pendapatan nominal dan pendapatan riil. Pendapatan nominal merupakan jumlah uang yang diterima seseorang, sedangkan pendapatan riil menggambarkan kemampuan pendapatan tersebut untuk membeli barang dan jasa setelah memperhitungkan perubahan harga.

Sebagai contoh, seorang pekerja memperoleh kenaikan gaji sebesar 5 persen dalam satu tahun. Apabila harga barang dan jasa yang relevan bagi kebutuhan pekerja tersebut meningkat dengan tingkat yang sama, kemampuan belinya secara umum tidak banyak berubah. Bahkan, apabila kenaikan harga lebih tinggi daripada kenaikan gaji, pekerja tersebut dapat mengalami penurunan daya beli meskipun jumlah gaji yang diterima bertambah.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan perlu dinilai bersama dengan perubahan biaya hidup. Tanpa mempertimbangkan harga, kenaikan gaji saja belum cukup untuk menggambarkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketika Biaya Hidup Menekan Pendapatan

Kebutuhan hidup merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi rumah tangga. Pengeluaran untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, listrik, pendidikan, dan kesehatan harus dipenuhi secara rutin. Sebagian pengeluaran tersebut sulit dikurangi dalam jangka pendek karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar.

Ketika harga kebutuhan meningkat, rumah tangga perlu menyesuaikan cara menggunakan pendapatannya. Sebagian masyarakat mungkin mengurangi pengeluaran untuk hiburan, menunda pembelian barang yang tidak mendesak, mengurangi tabungan, atau mencari sumber pendapatan tambahan.

Penyesuaian tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa masyarakat mengalami kemiskinan. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan rumah tangga untuk mempersiapkan kebutuhan masa depan dan menghadapi keadaan darurat.

Situasi ini juga memperlihatkan bahwa dampak perubahan harga tidak selalu dirasakan secara merata. Rumah tangga berpendapatan rendah dapat menghadapi tekanan lebih besar apabila sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan pokok.

Sementara itu, rumah tangga dengan pendapatan lebih tinggi mungkin memiliki ruang yang lebih besar untuk menyesuaikan pengeluaran.

Oleh karena itu, pembahasan mengenai daya beli sebaiknya tidak hanya melihat rata-rata pendapatan masyarakat, tetapi juga memperhatikan perbedaan kondisi ekonomi dan pola konsumsi antarkelompok masyarakat.

Mengukur Kesejahteraan dari Daya Beli

Untuk memahami kondisi tersebut secara lebih objektif, data mengenai upah, inflasi, dan pengeluaran masyarakat perlu dilihat secara bersamaan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyediakan berbagai publikasi yang dapat digunakan untuk menelusuri perkembangan indikator-indikator tersebut.

Data upah dapat memberikan gambaran mengenai perubahan pendapatan pekerja. Sementara itu, inflasi dan Indeks Harga Konsumen (IHK) dapat digunakan untuk melihat perubahan harga barang dan jasa. Data pengeluaran konsumsi rumah tangga juga dapat membantu memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat menggunakan pendapatannya.

Ketiga indikator tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Inflasi tidak secara langsung menunjukkan apakah setiap rumah tangga mengalami kenaikan biaya hidup dalam jumlah yang sama. Demikian pula, rata-rata upah tidak mewakili seluruh sumber pendapatan masyarakat. Oleh sebab itu, data perlu dibaca secara bersamaan agar kesimpulan yang dihasilkan tidak terlalu sederhana.

Hal penting lainnya adalah membedakan kenaikan harga dengan tingkat harga. Ketika inflasi melambat, hal tersebut berarti kenaikan harga secara umum berlangsung lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya, bukan berarti harga barang otomatis kembali murah. Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat masih dapat merasakan tekanan biaya hidup meskipun laju inflasi menurun.

Dengan demikian, menilai kesejahteraan masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar melihat apakah gaji naik atau inflasi turun.

Tantangan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Persoalan daya beli tidak dapat diselesaikan hanya dengan mendorong masyarakat mengurangi pengeluaran. Pengelolaan keuangan pribadi memang penting, tetapi kemampuan seseorang untuk menghemat juga memiliki batas, terutama ketika sebagian besar pendapatannya sudah digunakan untuk kebutuhan dasar.

Dari sisi ketenagakerjaan, peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan perlu berjalan seiring dengan upaya memperbaiki pendapatan pekerja. Dari sisi kebijakan ekonomi, stabilitas harga kebutuhan pokok, ketersediaan lapangan kerja, serta perlindungan bagi kelompok rentan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Di sisi lain, masyarakat perlu memiliki akses terhadap informasi keuangan dan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan agar dapat memperluas peluang memperoleh pendapatan. Namun, upaya tersebut tetap perlu didukung oleh kondisi ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang memadai.

Tantangan utamanya adalah memastikan bahwa perkembangan ekonomi tidak hanya terlihat dalam angka pertumbuhan nasional, tetapi juga tercermin dalam kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan, menyisihkan tabungan, dan meningkatkan kualitas hidup.

Pertumbuhan Ekonomi yang Harus Terasa di Kehidupan Nyata

Kenaikan pendapatan seharusnya menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, keberhasilan tersebut tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah uang yang diterima setiap bulan. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah pendapatan itu mampu memenuhi kebutuhan, memberikan ruang untuk menabung, dan menciptakan rasa aman secara finansial.

Jika tambahan gaji hanya habis untuk mengejar kenaikan biaya hidup, masyarakat mungkin tetap merasa kesulitan meskipun pendapatan nominalnya meningkat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan peningkatan daya beli dan kesempatan memperoleh pendapatan yang layak.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan yang dicapai, melainkan juga seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, bagi masyarakat, ekonomi yang tumbuh seharusnya bukan sekadar terlihat dalam laporan statistik, tetapi juga terasa ketika mereka mampu memenuhi kebutuhan tanpa terus-menerus khawatir uangnya tidak cukup hingga akhir bulan.

Penulis :

1. Irfan Maulana Yusuf 2. Inez Yuliana

Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang (UNPAM)

Dosen Pengampu: Yossy Wahyu Indrawan, S.E., M.M.