Kalau ngomongin “identitas nasional”, isi kepala kita biasanya langsung auto-replay ke momen upacara bendera, kewajiban pakai baju adat pas 17-an, atau hafalan butir-butir Pancasila zaman sekolah dulu. Pendekatan ini bikin identitas kita kerasa kaku banget, kaya barang antic yang Cuma dikeluarin dari etalase museum setahun sekali. Pertanyaanya, di luar hal-hal simbolik itu , seperapa sering sih nilai-nilai kebangsaan ini beneran relate sama realitis sehari-hari kita? Apalagi buat generasi kita yang lebih sering nongkrong dan berdebat di X (Twitter) atau tiktok daripada balai warga.
Realitasnya, batas negara sekarang udah bukan lagi soal peta geografis, tapi layar hp. Ancaman terbesar buat identitas kita hari ini bukan lagi penjajah yang bawa senapan, tapi algoritma platfon global yang diam-diam mendikte cara kita berpikir, cara kita komsumsi informasi, sampai cara kita bereaksi terhadap isu politik.
Agak ironis memang, Kadang kita sebagai anak muda lebih fasih berdepat soal cancel culture artis Hollywood atau ngikutin pemilu di Amerika Serikat, tapi malah blank atau males bersuara waktu ngelihat ketimpangan structural di depan mata-misalnya, soal nasib driver ojol yang kesejahteraanya dipermainkan system aplikasi, atau mahalnya UKT di kampus-kampus negri.
Makanya, ngelihat identitas nasional Cuma dari kacamata “warisan budaya” itu udah basi. Pancasila nggak seharusnya Cuma pajangan dinding kelas atau bahan hafalan buat lolos ujian CPNS. Nilai-nilai itu harusnya jadi pisau bedah buat ngeritik realitas social.
Misalnya, gimana keadilan social (sila kelima) bener-bener ditegakkan buat para pekerja rentan di sector gig economy ? Atau gimana kemanusiaan yang Adil dan Beradap (sila kedua) dipakai buat ngerim jari kita yang kadang terlalu gampang ngetik ujaran kebencian di kolom komentar? Inilah bentuk identitas ke-indonesiaan yang sebenarnya kita butuhkan sekarang.
Pasti bakal ada yang nyeletuk, “Ah, ngomongin nasionalisme di era globalisasi mah konservatif banget. Bikin tertinggal dan kuper.”
Padahal, punya identitas yang kuat bukan berarti kita jadi anti-asing atau tutup mata sama kemajuan zaman. Jepang dan Korea Selatan itu contoh paling kongkret. Mereka gila-gilaan berinovasi soal teknolagi dan mengekspor pop-culture , tapi identitas lokalnya nggak luntur sama sekali. Keduanya justru saling melengkapi jadi senjata soft power yang bikin dunia ngelirik. Identitas itu ibarat jangkar. Kapal butuh jangkar bukan biar dia nggak bias berlayar kemana-mana, tapi biar dia nggak gampang terseret arus atau karam pas badai dating.
Terus, gimana caranya biar identitas ini nggak Cuma berhenti jadi wacana tongkrongan atau tugas makalah kampus?
Pertama, system pendidikan kita harus banget dirombak mindset-nya. Udah nggak zaman banget nyekoki mahasiswa dan pelajar sama doktrin satu arah ngebosenin. Pendidikan kewarganegaran harus ngasih ruang buat nalar kritis. Anak muda harus diajak bedah studi kasus soal cyberbullying ,hoaks, perampasan lahan, atau polarisasi politik kacamata kebangsaan. Kita harus diajari bahwa keberanian mengkritik system dan kebijakan yang ngawur, bukan sekedar nurut tanpa reserve sama penguasa.
Kedua, negara jangan cuma sibuk bangun jalan tol aspal, tapi abai sama kedaulatan di jalan tol digital. Harus ada dukungan riil buat creator local, developer, dan peneliti muda buat bikin ekosistem digital yang membawa nilai-nilai kita sendiri. Kita nggak bias terus-terusan pasrah Cuma jadi pasar dan konsumen pasif buat produk atau nilai yang didisain dari silicon valley.
Pada akhirnya, menjadi orang Indonesia itu adalah sebuah proyek yang nggak akan pernah selesai. Negara ini kan pada dasarnya dibentuk dari imajinasi dan consensus kolektif. Sekarang, tugas generasi kitalah untuk terus memperbarui imajinasi itu biar tetap relevan sama zaman. Di jalan demokrasi ini, bersikap kritis adalah bentuk patriotism paling masuk akal buat anak muda. Karena merawat identitas nasional bukal soal memprioritaskan masa lalu, tapi soal memastikan kita punya pijakan yang kuat buat bertarung di masa depan.
Biodata penulis
Nama: Nur Alif Wahyu Dwi Putri Viona
Aktivitas: Mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Domisili: Karanganyar
Media social: @Yyttavio