Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Berita Utama

Gen Z, Islam, dan Keberagaman: Merawat Persatuan di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Penulis: Rajendra Filbert Brian Haryonoputro
Editor: Redaksi Pusat✓
Waktu Publikasi: 25 Oct 2026, 20:31:14 WIB
Dokumentasi Foto (Sumber :Pexels — Diversity Students⁠)
Dokumentasi Foto (Sumber :Pexels — Diversity Students⁠)

Di era digital, kita bisa mengenal seseorang dari berbagai daerah hanya melalui layar ponsel. Kita dapat berdiskusi dengan orang yang memiliki budaya berbeda, mengikuti perkembangan isu nasional, hingga bertukar gagasan dengan masyarakat dari belahan dunia lain. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu membuat kita semakin memahami satu sama lain. Di tengah derasnya arus informasi, perbedaan justru terkadang menjadi alasan untuk saling merendahkan, menyebarkan kebencian, dan memperuncing perpecahan.

Generasi Z, yang tumbuh bersama internet dan media sosial, memiliki posisi penting dalam menghadapi tantangan ini. Sebagai generasi yang akrab dengan keberagaman informasi dan interaksi digital, Gen Z bukan hanya pengguna teknologi, melainkan juga pembentuk budaya komunikasi di ruang publik. Karena itu, nilai-nilai Islam tentang persatuan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika kita berinteraksi di dunia maya.

Keberagaman Bukan Alasan untuk Terpecah

Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari identitas bangsa yang perlu dirawat bersama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menjumpai teman dengan kebiasaan, tradisi keluarga, pandangan politik, atau latar belakang budaya yang berbeda. Perbedaan semacam ini seharusnya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dan membangun hubungan yang baik.

Islam sendiri mengajarkan bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehendak Allah. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat tersebut ditutup dengan penegasan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.

Pesan utama ayat ini sangat relevan bagi masyarakat modern. Perbedaan identitas bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, keberagaman seharusnya membuka kesempatan untuk saling mengenal, memahami pengalaman yang berbeda, dan bekerja sama demi kebaikan bersama. Dalam konteks ini, ta’aruf bukan sekadar perkenalan, melainkan upaya membangun pemahaman antarmanusia.

Bagi Gen Z, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui hal sederhana: tidak meremehkan logat daerah teman, tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai bahan ejekan, dan tidak mengucilkan seseorang hanya karena pendapatnya berbeda. Sikap menghargai orang lain bukan berarti kita harus menyetujui seluruh pandangannya. Kita tetap dapat berbeda pendapat tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap martabat manusia.

Media Sosial dan Ujian Persaudaraan

Media sosial memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pendapat, menunjukkan kreativitas, serta memperjuangkan persoalan sosial. Namun, ruang yang sama juga dapat menjadi tempat berkembangnya prasangka dan permusuhan. Potongan video tanpa konteks, informasi yang belum terverifikasi, komentar provokatif, serta perdebatan yang berubah menjadi serangan pribadi dapat memperbesar kesalahpahaman.

Masalahnya, tidak semua orang menyadari bahwa tindakan digital memiliki konsekuensi nyata. Sebuah komentar yang dianggap candaan oleh pengirimnya dapat melukai orang lain. Unggahan yang dibagikan tanpa pemeriksaan dapat merusak reputasi seseorang. Sementara itu, kebiasaan mengikuti akun yang hanya memperkuat pandangan sendiri dapat membuat kita semakin sulit memahami sudut pandang yang berbeda.

Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas mengenai perilaku tersebut. Dalam Surah AlHujurat ayat 11, umat Islam diingatkan agar tidak mengolok-olok kelompok lain dan tidak saling memanggil dengan julukan yang buruk. Ayat 12 juga mengingatkan agar manusia menjauhi prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak menggunjing.

Nilai-nilai tersebut tidak hanya berlaku ketika bertatap muka. Dalam konteks masa kini, pesan itu juga relevan saat kita menulis komentar, mengunggah konten, meneruskan pesan, atau membicarakan orang lain di grup percakapan. Sebelum membagikan suatu informasi, kita perlu memeriksa kebenarannya. Sebelum menuliskan komentar, kita perlu mempertimbangkan apakah kata-kata tersebut menyampaikan kritik yang membangun atau sekadar mempermalukan orang lain.

Menjadi Muslim yang baik di era digital tidak cukup hanya dengan membagikan kutipan keagamaan. Nilai agama juga perlu tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama. Kesalehan seharusnya berjalan bersama tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap dampak tindakan kita.

Persatuan Tidak Berarti Menyamakan Semua Pendapat

Salah satu kesalahpahaman tentang persatuan adalah anggapan bahwa masyarakat harus selalu sepakat. Padahal, perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan bersama. Dalam lingkungan kampus, misalnya, mahasiswa dapat memiliki pandangan berbeda mengenai organisasi, kebijakan kampus, isu sosial, maupun cara menyelesaikan suatu masalah.

Perbedaan tersebut tidak harus berakhir dengan permusuhan. Diskusi yang sehat justru memungkinkan setiap orang menguji argumen, memperluas wawasan, dan menemukan solusi yang lebih baik. Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan kritik terhadap gagasan dari penghinaan terhadap orang yang menyampaikannya.

Dalam kehidupan berbangsa, semangat persatuan juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia. Nilai Islam dan semangat kebangsaan dapat saling menguatkan dalam membentuk generasi muda yang beriman, menghargai sesama, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Gen Z dapat memulai dari lingkungan terdekat. Dalam kerja kelompok, setiap anggota perlu diberi kesempatan berbicara. Dalam organisasi mahasiswa, keputusan sebaiknya dibangun melalui dialog dan pertimbangan yang adil. Ketika terjadi perbedaan, kita dapat mendengarkan terlebih dahulu sebelum menyimpulkan. Sikap seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi fondasi penting bagi persatuan yang nyata.

Dari Kesadaran Menuju Tindakan

Merawat keberagaman tidak cukup hanya melalui slogan toleransi. Diperlukan tindakan konsisten yang dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari.

Pertama, membiasakan diri memeriksa informasi sebelum membagikannya. Kedua, menggunakan bahasa yang santun ketika menyampaikan kritik, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Ketiga, membangun pertemanan tanpa menjadikan perbedaan latar belakang sebagai penghalang. Keempat, berani menolak perundungan dan diskriminasi dengan cara yang aman, bijaksana, serta tidak memperkeruh keadaan. Kelima, terlibat dalam kegiatan sosial yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa persatuan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau tokoh masyarakat. Persatuan juga dibentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap individu. Satu komentar yang menghargai orang lain mungkin tidak langsung mengubah masyarakat, tetapi kebiasaan berkomunikasi secara sehat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan terbuka.

Bagi generasi muda Muslim, tantangannya adalah memastikan bahwa nilai Islam tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi pedoman perilaku. Keimanan perlu tercermin dalam kejujuran saat menyebarkan informasi, kerendahan hati ketika berbeda pendapat, dan kepedulian ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil.

Menjadi Generasi yang Menyatukan

Gen Z hidup pada masa ketika informasi bergerak cepat dan pendapat dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Situasi ini membawa peluang sekaligus tanggung jawab. Kita dapat menggunakan teknologi untuk mempertemukan gagasan dan membangun solidaritas, tetapi kita juga dapat tanpa sadar memperluas prasangka apabila tidak berhati-hati.

Islam menawarkan landasan moral untuk menghadapi tantangan tersebut. Surah Al-Hujurat ayat 13 mengajarkan bahwa keberagaman merupakan jalan untuk saling mengenal, sedangkan ayat 11 dan 12 mengingatkan pentingnya menjaga lisan, menghindari ejekan, dan tidak membangun penilaian berdasarkan prasangka.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan generasi muda bukanlah seberapa keras kita memenangkan perdebatan, seberapa banyak orang menyukai unggahan kita, atau seberapa besar kelompok kita dibandingkan kelompok lain. Ukurannya juga terletak pada kemampuan kita menciptakan ruang yang menghargai martabat manusia dan memungkinkan perbedaan hadir tanpa berubah menjadi permusuhan.

Persatuan tidak menuntut kita menjadi sama. Persatuan mengajak kita tetap bekerja bersama meskipun tidak selalu sepemikiran. Jika Gen Z mampu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam kehidupan nyata dan ruang digital, keberagaman Indonesia tidak sekadar menjadi kenyataan yang diterima, tetapi menjadi kekuatan yang dirawat. Sebab, generasi yang hebat bukanlah generasi yang berhasil membungkam perbedaan, melainkan generasi yang mampu mengubah perbedaan menjadi jalan menuju kebaikan bersama.

Referensi

  1. Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 11–13. Terjemahan dan tafsir dapat diakses melalui Qur’an Kemenag dan Qur’an NU Online.
  2. Majelis Ulama Indonesia. “Reaktualisasi Nilai-nilai Toleransi dalam Al-Qur’an.” MUI Online.
  3. Ziaulhak, Sepriyansyah, dan Uswatun Hasanah. (2025). “Konsep Kebhinekaan Dalam Kajian Al-Quran Surah Al-Hujurat Ayat 13.” Journal of Innovative and Creativity, 5(3). Garuda Kemdiktisaintek

Nama: Rajendra Filbert Brian Haryonoputro Mahasiswa Universitas Airlangga