Yogyakarta - Kebiasaan menghemat air, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menghindari pemborosan makanan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa untuk menjaga kelestarian lingkungan. Namun, kebiasaan tersebut masih perlu dibangun melalui kesadaran dan pembiasaan yang berkelanjutan. Melihat pentingnya hal tersebut, edukasi lingkungan di perguruan tinggi dapat menjadi salah satu upaya untuk mendorong mahasiswa lebih bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya dan pengelolaan sampah.
Empat mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terdiri dari Shodiq Nur Setiawan, Chalistha Wanda Janice Febiola, Zahra Indri Larasati, Juwita Tri Utami, di bawah bimbingan dosen Ibu Dr. Kiromin Baroroh S.Pd., M.Pd. yaitu melaksanakan kegiatan edukasi bertajuk “Peran Konselor dalam Membangun Perilaku Peduli Lingkungan melalui Kesadaran Air Bersih dan Konsumsi Bertanggung Jawab” pada Jumat, 2 Oktober 2026, di lingkungan kampus UNY. Kegiatan yang melibatkan sepuluh mahasiswa ini mengangkat pendekatan ecocounseling untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Ecocounseling sebagai Pendekatan untuk Membangun Kepedulian Lingkungan
Kegiatan edukasi ini menekankan peran Bimbingan dan Konseling (BK) dalam membantu individu memahami hubungan antara perilaku sehari-hari dan kondisi lingkungan. Melalui pendekatan ecocounseling, mahasiswa diajak mengenali kebiasaan yang berpotensi merugikan lingkungan, memahami dampaknya, serta menentukan langkah perubahan yang dapat dilakukan secara konsisten.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mendorong kesadaran dan tanggung jawab pribadi. Peserta diajak merefleksikan kebiasaan mereka, seperti membiarkan keran air mengalir, menggunakan kemasan sekali pakai, dan membuang makanan yang tidak habis. Dari refleksi tersebut, mahasiswa diarahkan untuk mulai membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.
Edukasi Hemat Air dan Sanitasi untuk Mendukung SDGs 6
Materi SDGs 6 berfokus pada pentingnya penggunaan air secara bijak dan pemeliharaan kebersihan fasilitas sanitasi. Dalam kehidupan kampus, penerapannya dapat dimulai dengan menutup keran setelah digunakan, menggunakan air sesuai kebutuhan, menjaga kebersihan toilet, serta menghindari tindakan yang dapat mencemari saluran air.
Mahasiswa sebagai bagian dari komunitas kampus memiliki peran dalam menjaga ketersediaan dan kebersihan sumber daya air. Kebiasaan sederhana tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan selama kegiatan edukasi, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, kesadaran mengenai air bersih dan sanitasi dapat berkembang menjadi perilaku nyata yang mendukung lingkungan kampus yang sehat.
Mendorong Konsumsi Bertanggung Jawab melalui SDGs 12
Selain membahas penggunaan air, kegiatan ini mengangkat pentingnya pola konsumsi yang bertanggung jawab sesuai SDGs 12. Mahasiswa diperkenalkan pada sejumlah tindakan sederhana, seperti membawa botol minum sendiri, mengurangi penggunaan kantong plastik, menggunakan kembali barang yang masih layak, memilah sampah, dan mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Materi tersebut mengajak peserta memahami bahwa keputusan dalam membeli, menggunakan, dan membuang barang memiliki dampak terhadap lingkungan. Pengurangan sampah dapat dimulai dari perubahan kebiasaan individu sebelum berkembang menjadi kebiasaan bersama di lingkungan kampus. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk lebih mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli barang serta mengurangi penggunaan produk sekali pakai.
Evaluasi Kegiatan dan Komitmen Menerapkan Perilaku Ramah Lingkungan

Kegiatan Ecocounseling Mahasiswa UNY (Sumber: dok pribadi)
Untuk mengetahui hasil edukasi, evaluasi dilakukan melalui pertanyaan singkat sebelum dan sesudah penyampaian materi, refleksi peserta, serta penyusunan komitmen perilaku ramah lingkungan. Peserta diajak mengidentifikasi kebiasaan yang perlu diperbaiki dan menyebutkan tindakan yang akan dilakukan, terutama dalam menghemat air dan mengurangi sampah plastik.
Berdasarkan evaluasi kegiatan, edukasi ini menunjukkan hasil positif terhadap pemahaman peserta mengenai pentingnya menjaga kebersihan sanitasi, menggunakan air secara bijak, dan menerapkan konsumsi yang bertanggung jawab. Peserta juga didorong untuk menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten. Meski demikian, keberlanjutan perubahan perilaku memerlukan pembiasaan dan dukungan fasilitas kampus, seperti tempat sampah yang memadai, sanitasi yang terjaga kebersihannya, serta akses pengisian air minum.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNY diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih bersih dan berkelanjutan. Pendekatan ecocounseling menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan melalui pengenalan kebiasaan, penguatan motivasi, dan perencanaan perubahan perilaku. Dengan
menerapkan langkah sederhana secara berkelanjutan, mahasiswa dapat berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs 6 dan SDGs 12.