Di era ketika informasi bisa diakses dalam hitungan detik, gelar sarjana saja tidak lagi menjadi jaminan. Banyak lulusan baru yang bingung bukan karena tidak punya ilmu, tapi karena tidak punya bukti nyata bahwa ilmunya bisa dipakai.
Mahasiswa sekarang perlu membangun “portofolio hidup”: kumpulan karya, proyek, dan pengalaman yang bisa ditunjukkan ke dunia kerja. Ini bisa berupa artikel yang pernah diterbitkan, website yang dibangun, kampanye media sosial yang dikelola, atau bahkan laporan magang yang benar-benar memberi dampak bagi instansi terkait.
Masalahnya, sistem perkuliahan masih terlalu berfokus pada nilai dan tugas yang berakhir di meja dosen. Jarang ada mata kuliah yang benar-benar mendorong mahasiswa mempublikasikan karyanya ke publik luas. Akibatnya, saat lulus, banyak yang hanya punya transkrip nilai, tapi kosong dari jejak digital yang meyakinkan.
Sudah saatnya kampus dan mahasiswa berkolaborasi mengubah pola ini. Dosen bisa mulai memberi tugas yang “layak tayang” di media atau platform profesional. Mahasiswa juga perlu proaktif: tidak sekadar mengerjakan tugas, tapi bertanya, “Apakah karya ini bisa saya jadikan portofolio?”
Di masa depan, yang akan dilirik bukan hanya “lulusan dari mana”, tapi “sudah menghasilkan apa”.