Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Nasional

Menikah Bukan Lagi Ukuran Sukses Pergeseran , Pandangan Sosial tentang Hidup Dewasa

Penulis: undefined
Editor: Redaksi Pusat✓
Waktu Publikasi: 14 Sep 2026, 19:43:00 WIB
Dokumentasi
Dokumentasi



Bandung – Standar kesuksesan hidup bagi orang dewasa muda semakin beragam. Tekanan sosial untuk segera menikah, punya rumah, dan memiliki jabatan mapan mulai mendapat tantangan dari opini baru: bahwa setiap orang berhak menentukan “kesuksesan” versinya sendiri.

Di beberapa forum diskusi dan konten media sosial, banyak anak muda yang menolak narasi bahwa menikah di usia muda adalah satu-satunya tanda kedewasaan. “Saya lebih fokus membangun karier dan pengalaman dulu. Menikah itu pilihan, bukan kewajiban,” tulis salah satu pengguna di platform X.

Perubahan ini juga terlihat dari meningkatnya usia rata-rata pernikahan pertama di perkotaan, serta semakin banyaknya pasangan yang memilih menunda pernikahan karena alasan ekonomi, pendidikan, atau kesiapan mental. Data dari beberapa kota besar menunjukkan tren penundaan pernikahan semakin kuat di kalangan lulusan perguruan tinggi.

Namun, pergeseran ini tidak selalu diterima dengan mudah. Di tingkat keluarga dan lingkungan terdekat, banyak anak muda yang masih mendapat pertanyaan berulang: “Kapan nikah?” atau “Kok belum punya pasangan?” Tekanan ini kadang memicu rasa bersalah, meski di saat yang sama mereka semakin yakin dengan pilihan hidup masing-masing.

Opini sosial yang berkembang saat ini cenderung ke arah pluralisme makna sukses: ada yang mengukurnya dari karier, ada yang dari kontribusi sosial, ada pula yang dari kebebasan waktu dan pengalaman hidup. Menikah tetap dihargai, tapi tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya tujuan akhir.