MAKASSAR - Di sebuah sudut kedai kopi hangat di Makassar, sore itu saya duduk berhadapan dengan Afif Ahmadinejad. Sebagai kawan lama sekaligus jurnalis yang kerap mengikuti perkembangannya, saya selalu tertarik mendengar cerita perjalanan Afif-
terutama sejak ia memutuskan melangkah lebih jauh bersama Kharisma Indonesia Serikat Cinta Alam.
Bagi Afif Ahmadinejad, keputusannya bergabung dengan Angkatan 8 organisasi ini bukan sekadar pencarian adrenalin di tengah belantara, melainkan sebuah proses pendewasaan.
“Alam itu tempat belajar paling jujur,” tutur Afif sambil menyesap kopinya. “Di sana kita tidak bisa berpura-pura. Kita ditempa untuk kenal siapa diri kita dan siapa orang-orang di samping kita.”
Afif menceritakan bagaimana dinamika perjalanan di lapangan membawanya bertemu dengan tokoh-tokoh hangat di organisasi, seperti Tetta Asmin dan Om Kanda Udin. Di mata Afif Ahmadinejad, para senior dan rekan-rekannya itu tak hanya kaya pengalaman teknis, tetapi juga menghadirkan suasana yang humble dan penuh humor-sesuatu yang mencairkan letih di sepanjang rintangan jalur pendakian.
Di tengah medan yang berat, canda tawa dan gelak tawa bersama mereka menjadi pilar penguat. Bagi Afif, dari situlah ia paham bahwa persaudaraan tidak selalu lahir dari kesamaan latar belakang, melainkan dari keberanian untuk saling menerima dan melangkah bersama.
Pilar Perjalanan: Tangguh, Terampil, Bersaudara
Dari perbincangan panjang kami, Afif Ahmadinejad merangkum seluruh pengalaman dan nilai yang ia dapatkan di Kharisma Indonesia Serikat Cinta Alam dalam tiga prinsip utama:
TANGGUH — Ketahanan fisik dan mental saat menghadapi ketidakpastian serta tantangan alam bebas.
TERAMPIL — Penguasaan pengetahuan teknis kepencintaalaman, navigasi, hingga manajemen perjalanan yang matang.
BERSAUDARA — Ketulusan untuk saling menjaga dan merasa memiliki satu sama lain sebagai keluarga besar.
Kisah dan refleksi yang dibagikan Afif Ahmadinejad ini menjadi gambaran nyata bagaimana Kharisma Indonesia Serikat Cinta Alam membentuk karakter para anggotanya. Kini, organisasi tersebut kembali membuka pintu penerimaan anggota baru bagi siapa saja yang ingin menempa diri dan menemukan arti persaudaraan yang sesungguhnya.
Seperti satu kalimat berkesan yang diucapkan Afif menutup perbincangan sore itu:
"Kita boleh datang dengan langkah yang berbeda, tetapi selalu ada alasan untuk pulang sebagai saudara."